JAKARTA - Harga minyak mentah kembali mengalami kenaikan pada hari Senin, 12 Januari 2026. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Iran, salah satu produsen utama OPEC.
Meskipun demikian, upaya untuk mempercepat ekspor minyak dari Venezuela sedikit menahan laju kenaikan harga. Pasar tampak berhati-hati menunggu perkembangan lebih lanjut dari kedua negara produsen besar tersebut.
Pergerakan Harga Brent dan WTI
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent berjangka naik sebesar 31 sen atau 0,49 persen menjadi USD 63,65 per barel pada pukul 00:06 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 30 sen atau 0,51 persen menjadi USD 59,42 per barel.
Kenaikan ini menandai respons pasar terhadap ketidakpastian pasokan minyak global. Investor terlihat terus memantau situasi politik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga energi dunia.
Penurunan Harga Batu Bara dan CPO
Di sisi lain, harga batu bara justru mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Januari 2026. Berdasarkan situs Ice Newcastle, harga batu bara turun 0,10 persen dan berada di level USD 107,30 per ton.
Harga crude palm oil (CPO) juga tercatat menurun pada hari yang sama. Menurut data dari tradingeconomics, harga CPO turun 0,10 persen menjadi MYR 4.038 per ton.
Penurunan ini menunjukkan adanya koreksi harga di pasar komoditas tertentu. Faktor permintaan dan pasokan lokal kemungkinan menjadi penyebab utama tren menurun ini.
Lonjakan Harga Logam Industri: Nikel dan Timah
Harga nikel mengalami kenaikan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Januari 2026. Berdasarkan London Metal Exchange (LME), harga nikel naik 3,19 persen menjadi USD 17.703 per ton.
Tidak hanya nikel, harga timah juga menunjukkan tren naik pada periode yang sama. Data LME mencatat harga timah naik 4,14 persen dan menetap di USD 45.560 per ton.
Kenaikan logam ini mencerminkan sentimen positif di sektor logam industri. Investor tampaknya optimistis terhadap permintaan global yang tetap kuat meskipun pasar energi mengalami volatilitas.
Dinamika Pasar Komoditas yang Berbeda-Beda
Pergerakan harga minyak dan komoditas lainnya menunjukkan ketidakseragaman di pasar global. Sementara energi dan logam industri mengalami kenaikan, komoditas seperti batu bara dan CPO justru terkoreksi.
Fenomena ini menggambarkan bagaimana faktor geopolitik dan ekonomi dapat memengaruhi komoditas secara berbeda. Para pelaku pasar harus menyesuaikan strategi investasi sesuai dinamika yang terus berubah.
Pasar minyak, khususnya, tetap sensitif terhadap berita protes dan gangguan produksi. Investor global memantau setiap informasi terkait produsen utama seperti Iran dan Venezuela dengan cermat.
Di sisi lain, logam seperti nikel dan timah mendapatkan dorongan dari sentimen optimis industri manufaktur. Hal ini menandakan adanya pergeseran permintaan yang mendukung kenaikan harga logam.
Sedangkan batu bara dan CPO menunjukkan koreksi tipis karena pengaruh faktor lokal dan permintaan yang tidak terlalu kuat. Penurunan ini relatif kecil namun tetap mencerminkan pergerakan harga yang berbeda dengan minyak dan logam.
Tren ini menjadi indikasi penting bagi pelaku pasar untuk melihat peluang investasi yang beragam. Kombinasi antara faktor geopolitik, ekonomi, dan permintaan global memengaruhi setiap komoditas dengan cara berbeda.
Harga minyak mentah Brent dan WTI kemungkinan akan tetap fluktuatif. Pasar terus menunggu perkembangan situasi politik di Iran yang dapat menentukan arah harga dalam jangka pendek.
Di sisi lain, harga nikel dan timah berpotensi tetap kuat. Permintaan dari sektor industri dan manufaktur global menjadi faktor utama yang menopang kenaikan harga logam ini.
Koreksi harga batu bara dan CPO kemungkinan bersifat sementara. Penyesuaian pasokan dan permintaan lokal dapat memicu stabilisasi harga dalam beberapa waktu ke depan.
Secara keseluruhan, dinamika pasar komoditas pada awal Januari 2026 menunjukkan kompleksitas yang tinggi. Pergerakan harga dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari geopolitik, pasokan, hingga tren industri global.
Investor dan pengamat pasar perlu mencermati pergerakan harga secara seksama. Pemahaman menyeluruh tentang setiap faktor menjadi kunci untuk mengambil keputusan yang tepat dalam kondisi pasar yang fluktuatif.
Dengan adanya ketidakpastian pasokan minyak dari Iran dan Venezuela, harga energi kemungkinan akan tetap sensitif. Hal ini menjadi fokus utama bagi pelaku pasar hingga kondisi politik stabil kembali.
Sementara itu, kenaikan logam industri memberikan peluang bagi investor untuk memanfaatkan tren positif di sektor ini. Timah dan nikel menjadi sorotan utama dalam pergerakan harga komoditas global.
Koreksi tipis pada batu bara dan CPO tidak mengubah gambaran besar pasar. Pasar tetap mencermati keseimbangan antara pasokan dan permintaan untuk menentukan arah harga jangka menengah.
Dengan demikian, pergerakan harga komoditas global pada periode ini menunjukkan pola yang beragam. Fluktuasi harga energi, logam, dan komoditas pertanian menuntut strategi investasi yang fleksibel dan adaptif.